Jakarta (Greeners) βPerayaan Idulfitri 1446 H memiliki makna mendalam bagi umat Islam. Di samping itu, momen suci ini juga memberikan kesempatan untuk memperkuat kolaborasi antarumat beragama di Indonesia untuk bersama-sama mendorong terciptanya kebijakan yang adil dan lestari.
Koordinator Greenfaith Indonesia, Hening Parlan, mengungkapkan bahwa Idulfitri bukan hanya sekadar kegembiraan umat Islam. Idulfitri jadi momen bagi seluruh umat untuk bersama-sama merayakan kebersamaan tanpa memandang agama.
βIdulfitri mengajarkan kita untuk membangun universalitas secara kolektif,β ujar Hening kepada Greeners, Sabtu (29/3).
BACA JUGA: Tetap Ramah Lingkungan Saat Rayakan Idulfitri
Ia mengartikan universalitas ini sebagai kolaborasi antarumat beragama untuk membangun masa depan yang lebih baik. Baginya, Idulfitri bukan hanya sebagai sarana ibadah dan introspeksi, tetapi juga sebagai kegembiraan bagi semua, serta sebagai wujud kerelaan untuk menciptakan ruang universalitas untuk berkolaborasi di masa depan.
βDi samping itu, kita juga melakukan introspeksi. Jika ada kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai, kita dapat mendorong perubahan tersebut secara bersama-sama,β ucap Hening.
Ramadan Membawa Kesadaran
Sementara itu, dalam pandangan konservatif, Edmund Burke mengungkapkan bahwa agama adalah βprasangka pertamaβ dalam masyarakat. Artinya, agama menjadi dasar bagi kebajikan, moralitas, dan pembentukan masyarakat yang baik.
Burke percaya bahwa hubungan antara rumah ibadah (agama) dan negara dapat mengurangi penipuan, kekerasan, ketidakadilan, dan tirani dalam pemerintahan. Menurutnya, masyarakat tidak dapat bertahan tanpa moralitas, dan moralitas tidak dapat tegak tanpa agama.
Suara Muhammadiyah melansir bahwa Ramadan dalam konteks ini bukan hanya bulan ibadah ritual. Ramadan adalah untuk refleksi dan restorasi kemanusiaan. Dalam kehidupan modern yang sibuk, banyak orang sering terjebak dalam rutinitas, hingga lupa akan hakikat dirinya.
Manusia tidak hanya hidup untuk memenuhi kebutuhan biologis dan emosional, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial, termasuk terhadap lingkungan. Puasa, yang lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, berfungsi sebagai sarana untuk mengembalikan keseimbangan ini, baik dalam aspek pribadi, sosial, maupun ekologis.
BACA JUGA: Mudik Tanpa Polusi, Pesepeda Siap Gowes Menuju Kampung Halaman
Hening Parlan juga menegaskan bahwa Ramadan memberi kesempatan untuk introspeksi, memperbaiki hal-hal yang kurang baik, baik dalam kehidupan pribadi maupun kebijakan negara.
βJika ada kebijakan yang tidak adil atau kurang tepat di masa lalu, Ramadan memberi kita kesempatan untuk merefleksikannya,β ujarnya. Dengan refleksi tersebut, pasca-Idulfitri, masyarakat Indonesia dapat berkolaborasi bersama untuk mendorong kebijakan yang lebih baik, adil, dan lestari.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia