Warga Kampung Imsar Mengungkap Keresahan Lewat Lensa Fotografi

Reading time: 3 menit
Di Kampung Imsar terdapat 40 orang anak yang berjalan kaki ke sekolah dengan jarak yang berbeda-beda. Jarak Kampung Imsar dengan SD dan SMP YPK Genyem sekitar 4 km, dengan SMA 1 Nimboran 7 km, sedangkan menuju SMK 2 Nimboran sejauh 9 km. Foto: ©OSKAR GIAY/PVI-Suara Grina Imsar/2024
Di Kampung Imsar terdapat 40 orang anak yang berjalan kaki ke sekolah dengan jarak yang berbeda-beda. Jarak Kampung Imsar dengan SD dan SMP YPK Genyem sekitar 4 km, dengan SMA 1 Nimboran 7 km, sedangkan menuju SMK 2 Nimboran sejauh 9 km. Foto: ©OSKAR GIAY/PVI-Suara Grina Imsar/2024

Jakarta (Greeners) – Sebanyak 16 warga Kampung Imsar di Lembah Grime Nawa, Kabupaten Jayapura, memotret berbagai isu yang terjadi di wilayahnya. Mereka menghasilkan 31 foto yang mereka pamerkan dalam program Photovoices untuk menyuarakan keresahan masyarakat kepada berbagai pihak.

Pameran dan diskusi foto bertajuk “Suara Kampung Imsar” ini merupakan hasil kolaborasi antara Photovoices International (PVI), Organisasi Perempuan Adat (ORPA) Suku Namblong, dan Suara Grina. Acara tersebut juga mendapatkan dukungan Pemerintah Kabupaten Jayapura.

Melalui dialog dan diskusi kritis yang difasilitasi oleh PVI dan Suara Grina, penentuan isu-isu yang diangkat dilakukan melalui diskusi bersama pemimpin kampung dan sebagian besar warga Imsar dalam pertemuan kampung. Hasilnya, enam isu utama berhasil diidentifikasi, yakni pendidikan, kesehatan, budaya, pariwisata, pertanian-perkebunan, dan kepemudaan.

Setiap isu menggambarkan permasalahan dan keresahan masyarakat Kampung Imsar. Mereka juga sekaligus menyoroti potensi dan kekuatan kampung yang bisa dikembangkan.

Isu kepemudaan, misalnya, menggambarkan peran penting kaum muda yang kreatif dan memiliki potensi besar untuk diberdayakan. Namun, ada juga yang terjebak dalam penyalahgunaan obat terlarang dan minuman keras.

Isu lain adalah minimnya fasilitas kesehatan di Kampung Imsar, serta dampak dari kondisi ini. Dalam hal ini, warga harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan. Selain itu, kasus gizi buruk pada anak juga menjadi perhatian. Foto-foto yang menampilkan anak-anak berseragam sekolah berjalan kaki sejauh 9 kilometer untuk menuju sekolah mengisahkan semangat juang mereka.

Kondisi sulit, seperti tidak adanya transportasi umum dan keterbatasan ekonomi, memaksa anak-anak ini untuk berjalan kaki pergi-pulang sekolah. Meski demikian, semangat mereka untuk terus menuntut ilmu tetap tinggi, menunjukkan tekad yang kuat untuk masa depan mereka.

Warga sedang melakukan proses pemotretan di Kampung ImsarSumber:  Photovoices International (PVI)

Warga sedang melakukan proses pemotretan di Kampung Imsar
Sumber: Photovoices International (PVI)

Anjuran ke Pemerintah

Direktur Eksekutif Photovoices International, Tri Soekirman mengatakan bahwa kegiatan pameran dan diskusi foto ini menjadi rangkaian akhir dari Program Photovoices Kampung Imsar.

“Ini menjadi medium untuk memberi anjuran kepada para pembuat kebijakan di tingkat Kabupaten Jayapura, organisasi, dan mitra-mitra lain,” ujar Tri dalam keterangan tertulisnya.

Photovoice atau fotografi partisipatif adalah sebuah metodologi untuk melibatkan masyarakat dalam keputusan-keputusan yang mempengaruhi hidup mereka. Metodologi ini pertama kali dikembangkan oleh Caroline Wang dan Mary Ann Burris pada awal tahun 1990-an. Mereka menggunakannya sebagai medium untuk memperbaiki kehidupan masyarakat secara kreatif melalui fotografi.

Pemeran dan Diskusi Foto Program Photovoice "Suara Kampung Imsar" Sumber:  Photovoices International (PVI)

Pemeran dan Diskusi Foto Program Photovoice “Suara Kampung Imsar”
Sumber: Photovoices International (PVI)

Dorong Kepekaan

Asisten Bidang Pemerintahan Umum, Setda Kabupaten Jayapura, Elphyna Situmorang, menyampaikan bahwa metode photovoices dan kegiatan foto yang bersuara seperti ini masih jarang ditemui.

Ia percaya bahwa penggunaan foto dan cerita dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu sekitar mereka. Hal ini juga mendorong mereka untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan yang ada.

Selain itu, melalui cerita, masyarakat dapat menggali lebih dalam mengenai masalah yang terjadi. Dengan demikian, mereka bisa mencari solusi terbaik untuk perubahan yang lebih baik.

“Tidak sedikit di antaranya, cerita-cerita yang selama ini belum terungkap. Diharapkan proses–proses pembangunan, baik berupa musrenbang kampung, distrik, sampai pada kabupaten, serta giat musyawarah adat, bisa menggunakan metode photovoice tersebut,” ujarnya.

Elphyna juga menekankan bahwa permasalahan-permasalahan yang terungkap melalui metode ini, sudah menjadi tanggung jawab bersama. Ini juga merupakan bagian dari tugas pemerintah untuk mengentaskannya.

Berbagi Pengetahuan

Dalam program Photovoices Kampung Imsar, penyelenggara mengajak peserta untuk mengenali, mewakili, dan memajukan diri melalui proses dialog kritis. Para peserta juga berbagi pengetahuan mengenai peran perempuan, pemuda, dan masyarakat adat di Kampung Imsar dalam menghadapi isu-isu yang mempengaruhi mereka.

Proses pembelajaran ini mencakup keterampilan teknik fotografi, wawancara dengan narasumber terkait isu yang mereka angkat. Selain itu, peserta juga belajar membuat cerita, serta cara mempresentasikan hasilnya secara terstruktur.

Program ini telah berlangsung sejak Mei 2024 dengan melibatkan beragam usia dan profesi, mencakup kelompok anak muda, perempuan, dan masyarakat adat.

Perkenalkan Tradisi

Lewat foto dan cerita, para peserta juga mendokumentasikan kembali ragam tari khas Imsar, proses remah sagu tradisional, dan pembuatan noken yang kini hampir punah karena tak lagi ada penerusnya.

Koordinator Suara Grina, Vebbry Hembring mengatakan bahwa melalui foto-foto dan cerita ini, tradisi dan budaya kami terdokumentasikan, yang sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan atau mengingatkannya kepada anak-anak muda.

“Kami berharap, tradisi kami tetap terpelihara, budaya kami lestari, dan anak muda tetap bangga dengan bahasa dan budayanya,” papar Vebbry.

Kampung Imsar yang berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut, memiliki lahan subur dengan keanekaragaman hayati tinggi, yang menyimpan potensi pengembangan sektor perkebunan, pertanian, dan pariwisata. Vanili, umbi-umbian, kakao, dan gaharu merupakan salah satu potensi perkebunan yang diangkat.

Inovasi warga membuat teh gaharu juga mendapat apresiasi tersendiri untuk menciptakan peluang sumber mata pencaharian baru. Dengan lanskap perbukitan yang cantik, memiliki beberapa sumber mata air dan pemandian alami, serta satwa khas seperti kuskus, kakaktua, dan burung kepala udang, menurut Vebbry perlu pengelolaan pariwisata yang baik untuk membuka sektor mata pencaharian di sektor wisata dan memberdayakan kaum muda.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top